Kamis, 17 Juli 2014

Tujuan Allah tidak berubah

Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; 
sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.
1 Samuel 15:29


Bertobat berarti mengganti pertimbangan dan mengubah rencana aksi  seseorang .  Allaqh tidak pernah berbuat demikian; Ia tidak perlu berbuat itu, sebab rencana-Nya dibuat atas dasar pengetahuan dan pengendalian lengkap yang mencakup semua hal di masa lalu, kini, kelak, sehingga tak mungkin ada suatu keadaan darurat atau perkembangan tak terduga yang membuat-Nya terkejut. “ Rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun” (Mzm. 33:11).  Apa yang Ia buat dalam waktu, telah Ia rencanakan dalam kekekalan; Ia mewujudkan rencana kekal-Nya ke dalam waktu. Dan semua yang dalam Firman dinyatakan akan Ia lakukan, pasti tidak akan gagal. Maka tujuan-Nyapun bersifat tidak berubah, sehingga orang beriman dapat menikmati kepastian penuh tentang warisan yang Ia janjikan, dan tentang sumpah-Nya yang tidak dapat berubah dengannya Ia meneguhkan janji-Nya kepada Abraham , untuk menjamin Abraham dan juga semua yang menerima janji-Nya (Ibr. 6:17-19). Demikian juga dengan semua maksud Allah lainnya yang telah Ia nyatakan dalam Alkitab. Semua itu tidak berubah. Tidak ada satu bagian pun dari rencana-Nya yang kekal yang berubah.


Memang ada sekelompok teks (Kej. 6:6-8; 1Sam. 15:11; 2Sam. 24:16; Yo. 2:13-14; Yun. 3:10) yang berbicara tentang Allah menyesal. Masing-masing rujukan itu bicara tentang perubahan perlakuan Allah terhadap orang tertentu, sebagai konsekuensi dari reaksi mereka terhadap perlakuan Allah sebelumnya. Tetapi tidak ada kesan bahwa reaksi itu tidak diketahui Allah sebelumnya, atau bahwa hal itu membuat Allah terkejut, dan tidak ada persediaan dari-Nya uyang Ia siapkan dalam rencan kekal-Nya. Ketika Ia mulai memperlakukan seseorang secara baru, tidak berarti bahwa  rencana kekal-Nya berubah. 

Selasa, 15 Juli 2014

Sifat Allah tidak berubah

Aku Tuhan tidak berubah
Maleakhi 3:6


Ketegangan, kejutan, atau kerusakan otak dapat mengubah sifat manusia, tetapi tidak adal hal dapat mengubah sifat Allah. Dalam perjalanan hidup manusia, selera, pandangan dan watak dapat berubah secara radikal:  seorang  yang tadinya baik bisa berubah menjadi pahit dan naik pitam; orang yang baik hati bisa menjadi sinis dan kejam. Tetapi hal seperti itu tidak akan terjadi pada sang Pencipta. Ia tidak akan menjadi kurang benar atau murah hati atau adil atau baik sebagaimana Ia biasa dikenal. Hari ini dan selamanya, sifat Allah akan selalu sama, persis seperti yang dinyatakan dalam masa Alkitab.

Allah menyatakan Nama-Nya kepada Musa sebagai  “Aku ada yang Aku ada” (Kel. 3:4). Nama ini bukan deskripsi tentang Allah tetapi deklarasi tentang keberadaan-Nya yang mandiri dan ketidakberubahan-Nya yang kekal – suatu pengingat bagi manusia bahwa Ia memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri dan sebagaimana Ia ada kini Ia akan tetap demikian kekal selamanya. Dalam pasal bagian belakang Ia menyatakan “nama TUHAN” kepada Musa dengan mendaftarkan berbagai faset sifat-Nya  yang kudus (Kel. 34:5-7). Jadi dari dua rujukan ini kita belajar bahwa Allah, kini dan selamnya sama seperti Ia pernah dikenal Musa tiga ribu tahun lalu. Sifat moral Allah tidak berubah.


Ketika menulis tentang kebaikan dan kekudusan Allah, kemurahan-Nya kepada manusia, dan kebenciaan-Nya terhadap dosa, Yakobus bicara tentang Allah sebagai yang didalam-Nya “tidak ada perubahan atau bayang karena pertukaran” (Yak. 1:17). 

Ia tidak dapat berubah menjadi lebih baik, sebab ia senantiasa sempurna; dan karena sempurna Ia tidak dapat menjadi kurang baik.

Minggu, 13 Juli 2014

Asal, topangan, tujuan ciptaan

Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia
Roma 11:36



Allah telah menyatakan diri-Nya sebagai asal, penopang, dan tujuan dari semua ciptaan serta manusia. Segala sesuatu yang Ia adakan dimaksudkan untuk menghormati dan menjadi kepujiaan bagi-Nya. Dalam khotbahnya di Atena Paulus meletakkan dasar bagi kebenaran tentang Allah (theisme) yang tidak dikenal oleh para penyembah berhala (Kis. 17:22-31).

Pertama ia berbicara tentang Allah sebagai asal kita, sebagai yang menyebabkan keberadaan kita. “Allah yang telah menjadikan dunia dan segala isinya...dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua  bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi” (Kis. 17:24-36).

Lalu Paulus menyebut Allah sebagai penopang, yang “memberikan hidup dan nafas dari segala sesuatu kepada semua orang” (25, 28). Kita bergantung pada Allah untuk semua saat keberadaan kita: mahluk hanya bisa tetap ada karena kuasa-Nya terus-menerus menopang. Ia yang transenden, di atas, melampaui, terlepas dari dan sepenuhnya mandiri dari dunia-Nya ini, adalah juga Ia yang Imanen: Ia ada dalam dunia mengatasi; meresapi dan menopang dunia dengan mengatur serta mengendalikan perjalanan serta kelangsungannya.


Akhirnya Paulus berbicara tentang Allah sebagai tujuan. Allah menciptakan manusia, “supaya mereka mencari Dia,” demikian ujar Paulus di ayat 27. Manusia ada untuk Allah, dan kefasikan adalah penyangkalan terhadap hakikat manusia. Kemanusiaan hanya disempurnakan dalam orang yang mengenal Allah.
Sang Seniman


Pada Mulanya Allah Menciptakan langit dan Bumi
Kejadian 1:1

Dalam kisah Detektif, biasanya saya dapat memperkirakan siapa (para tokoh dalam kisah itu), dengan mengamati bagaimana tindak-tanduk para tokoh yang bersangkutan.  Tetapi kejadian 1 dan 2 memaparkan kepada saya tentang siapa tanpa memberikan banyak  pemaparan tentang bagaimana yang Ia lakukan.

Saya telah melihat laut, langit, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Saya telah mengamati tumbuhan, binatang, serangga, semua makhluk  atau benda besar dan kecil. Saya terpesona dengan kesempurnaan manusia dan segenap kuasa, keahlian dan kedalaman perasaan menyangkut pesona, atraksi serta afeksi pria dan wanita. Fantastis! Sekarang saya mencoba untuk menemui Ia yang ada dibalik semua ini.  Sesudah saya menikmati sebuah karya seni, maka saya harus menjabat tangan sang artis; karena saya terpesona oleh musiknya, dan berkenalan dengan penggubah musiknya.

Seperti Mazmur 104 dan Ayub 38-41, memperlihatkan sang Pencipta kepada saya, dan bukan memperlihatkan ciptaan. Maksudnya adalah mengajar saya mengenal Allah bukan sains.

Waktu mencipta Allah tidak hanya seperti seorang tukang. Seorang tukang atau seniman membentuk secara terbatas dengan menggunakan bahan yang ada, tetapi tidak ada satu pun bahan sebelum Allah bicara, “Jadilah...” Hal ini disebut sebagai creatio ex nihilo oleh teologi Kristen, yaitu penegasan bahwa ketika mencipta Allah sama sekali bebas dan tidak terbatas, dan satu-satunya yang mendorong terjadinya ciptaan adalah ide dan keiinginan-Nya sendiri. 
Hubungan Berbeda Ras/Etnis, Bolehkah?



Berbagai masalah akan muncul dalam setiap langkah kaki kita ketika kita masih hidup. Masalah hadir atas kehendak-Nya, saya percaya itu. Tuhan yang mengizinkan masalah hadir dalam kehidupan kita. Melalui setiap masalah yang hadir kita sebagai ciptaan-Nya diproses ke arah yang lebih baik.

Saya adalah seorang Pria yang sedang memperjuangkan cinta saya buat wanita yang saya cintai. Masalah yang sedang saya hadapi saat ini menyangkut tentang hubungan saya dengan kekasih saya yang terhambat dengan masalah Ras/Etnis. Saya tidak sendiri, pasangan saya hadir menemani saya. Karena dengan cinta, semangat dan kesetiaannya sangat memberikan saya kekuatan dan dorongan untuk berjuang membawa hubungan kami ke arah yang lebih baik. Saya dan dia berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Ya, kami berdua berjuang untuk cinta kami.

Masalah perbedaan etnis/ras merupakan masalah klasik dalam sebuah hubungan yang sifatnya abadi, tidak lekang oleh waktu.

Pada dasarnya Tuhan tidak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan suku dan etnisnya. Tuhan hanyalah melihat hati manusia.
Alkitab mengajarkan kalau dalam Yesus tidak ada perbedaan ras/ etnis.

“...dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang sakit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (Kolose 3:11)

Jadi jika kita lihat dari ayat ini jelas, memiliki pasangan yang berbeda ras/etnis menurut saya itu tidak salah. Asalkan satu dalam Kristus, ras/etnis apapun sama berharganya di hadapan Tuhan.


Lalu kalau begitu, mengapa terdapat berbagai masalah berkaitan dengan berpacaran dengan yang berbeda suku atau etnis?

Mari melihat lebih awal, perbedaan suku atau etnis itu pada dasarnya tergantung kepada yang bersangkutan efeknya.

Perbedaan suku atau etnis tersebut berpengaruh besar kepada cara pandang, kedewasaan diri, dan kemampuan berkomitmen seseorang, apalagi pada imannya kepada Kristus; dengan demikian perbedaan suku atau etnis ini adalah faktor penting yang harus diperhitungkan pasangan dalam menjalin sebuah hubungan.


Saya sadari latar belakang keluarga mengambil peranan yang cukup penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
Latar belakang keluarga (termasuk di dalamnya faktor suku atau etnis ini) kemudian digabungkan dengan tingkat pendidikan, pengalaman hidup, dan pergaulan sosial yang dimiliki seseorang yang pada akhirnya membentuk diri seseorang. Walaupun bukan faktor satu-satunya yang berperan dalam pembentukan diri seseorang tapi saya sadari bahwa faktor ini adalah faktor yang cukup penting.


Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dari berbagai macam suku bangsa, walaupun begitu perbedaan ras/etnis ini tidak selalu disambut dengan dengan baik disini. Jika mau dilihat dari segi perbedaan, semakin banyaknya perbedaan yang ada antara seseorang dengan pasangannya akan membuat tingkat penyesuaian (adaptasi) di antara keduanya semakin besar pula. Adaptasi atau penyesuaian dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda akan memakan waktu yang lebih lama. Saya dan pasangan saya harus siap dengan segala konsekuensi karena perbedaan yang ada. tapi penting untuk dicatat adalah bagaimana kita melihat perbedaan yang ada sebagai alat penyatu. Dibutuhkan banyak pengertian, kesabaran dan toleransi baik dalam hubungan ini supaya perbedaan Ras/etnis tidak jadi masalah besar, tapi membuat hubungan saya, pasangan saya, dan keluarga kami jadi tambah dekat. Saya harus tetap bersikap hormat pada keluarga pasangan saya bagaimanapun negatifnya sorotan yang muncul, dan terus tunjukkan bahwa hubungan kami didasarkan pada cinta dan ketulusan. Kami berharap dengan pertolongan Tuhan lama-kelamaan pihak keluarga pasangan saya akhirnya dapat menerima saya. Dan untuk itu saya perlu bersabar dan tidak mudah putus asa.


Bagi saya Kunci sebuah hubungan adalah kemampuan untuk menerima pasangan apa adanya, melakukan adaptasi antara keduanya, mampu memecahkan konflik yang timbul, menjaga komunikasi dan hubungan tetap hangat dan kuat.


Di atas semuanya, seperti Kristus juga ingin menyelamatkan semua bangsa, semua suku, tanpa pandang bulu; Ia juga tidak membawa perbedaan bagi bangsa dan suku.
Jika memang adalah kehendak-Nya untuk mempersatukan dua orang yang berbeda suku ataupun etnis, maka saya cukup yakin bahwa hambatan yang muncul apapun itu akan dapat diatasi dengan baik. Sebaliknya, jika memang bukan kehendak-Nya suatu hubungan dapat terbentuk, sekalipun tanpa perbedaan suku atau etnis akan tidak terbentuk juga.


Kita harus yakin, bahwa memang si dia adalah pasangan yang sepadan dan bersamanya kita dapat mencapai visi dan misi yang Tuhan tetapkan bagi kita; Memang tidak mudah dalam hal ini. Membutuhkan waktu. Makanya ada namanya masa pacaran Karena memang berpacaran adalah sarana untuk mencapai pernikahan, dan pernikahan tujuan akhirnya adalah membantu saya dan pasangan mencapai visi dan misi yang Tuhan tetapkan dengan lebih baik lagi.


Kepada teman-teman pembaca jika kalian mengalami masalah yang serupa dengan saya saat ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk terus melibatkan Tuhan dalam setiap masalah yang kita hadapi. Saat saya dan teman-teman memprioritaskan Tuhan, masalah apapun yang kita hadapi, jalan keluar pasti akan selalu kita temukan dengan bimbingan-Nya. Dengan hati yang senantiasa dipenuhi oleh kasih akan Tuhan, saya percaya saya dan teman-teman akan sanggup mengasihi pasangan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Biarlah Kasih dari Yesus sendiri terpancar dalam hubungan saya dan pasangan saya. Sekian. God Bless. (EL)