Tujuan
Allah tidak berubah
Sang
Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal;
sebab Ia bukan
manusia yang harus menyesal.
1
Samuel 15:29
Bertobat
berarti mengganti pertimbangan dan mengubah rencana aksi seseorang .
Allaqh tidak pernah berbuat demikian; Ia tidak perlu berbuat itu, sebab
rencana-Nya dibuat atas dasar pengetahuan dan pengendalian lengkap yang
mencakup semua hal di masa lalu, kini, kelak, sehingga tak mungkin ada suatu
keadaan darurat atau perkembangan tak terduga yang membuat-Nya terkejut. “
Rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun” (Mzm.
33:11). Apa yang Ia buat dalam waktu,
telah Ia rencanakan dalam kekekalan; Ia mewujudkan rencana kekal-Nya ke dalam
waktu. Dan semua yang dalam Firman dinyatakan akan Ia lakukan, pasti tidak akan
gagal. Maka tujuan-Nyapun bersifat tidak berubah, sehingga orang beriman dapat
menikmati kepastian penuh tentang warisan yang Ia janjikan, dan tentang
sumpah-Nya yang tidak dapat berubah dengannya Ia meneguhkan janji-Nya kepada
Abraham , untuk menjamin Abraham dan juga semua yang menerima janji-Nya (Ibr.
6:17-19). Demikian juga dengan semua maksud Allah lainnya yang telah Ia
nyatakan dalam Alkitab. Semua itu tidak berubah. Tidak ada satu bagian pun dari
rencana-Nya yang kekal yang berubah.
Memang
ada sekelompok teks (Kej. 6:6-8; 1Sam. 15:11; 2Sam. 24:16; Yo. 2:13-14; Yun.
3:10) yang berbicara tentang Allah menyesal. Masing-masing rujukan itu bicara
tentang perubahan perlakuan Allah terhadap orang tertentu, sebagai konsekuensi
dari reaksi mereka terhadap perlakuan Allah sebelumnya. Tetapi tidak ada kesan
bahwa reaksi itu tidak diketahui Allah sebelumnya, atau bahwa hal itu membuat Allah
terkejut, dan tidak ada persediaan dari-Nya uyang Ia siapkan dalam rencan
kekal-Nya. Ketika Ia mulai memperlakukan seseorang secara baru, tidak berarti
bahwa rencana kekal-Nya berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar